Monday, August 23, 2010

Motherhood I (Menyusui yuk...)

Dua bulan tiga hari adalah usia saya dalam dunia Ibu, tentunya belum cukup menjadikan saya seorang profesional mom. Namun, dua bulan tiga hari cukup untuk membuat saya berbagi pengalaman, terutama agar para new mom tidak melakukan kesalahan seperti yang pernah saya lakukan.

Common problem yang sering terjadi :

1. Problem Menyusui

Sebelum melahirkan, saya selalu diwanti-wanti teman kantor untuk memberikan asi eksklusif. Kenapa?
Mengutip dari william sears, M.D. dalam bukunya the baby book "air susu manusia untuk bayi manusia adalah sungguh masuk akal!", begitu juga Hiromi shinya,M.D dalam bukunya the miracle of enzym,berpendapat bahwa "susu sapi hanya untuk anak sapi" (oops).
Lagi-lagi saya setuju dgn dr.sears bahwa tampaknya mudah untuk beralih ke susu formula,ketika melihat perjuangan ibu untuk memberikan asi pada awal kelahiran. Setidaknya itu yang saya alami, derai air mata turut mengiringi proses pemberian asi karena khawatir tidak berhasil, walau mungkin efek dari baby blues juga(kondisi ibu yang tiba2 sedih dan menangis karena hormon pasca melahirkan).
Langsung saja,berikut adalah persiapan dan masalah yang mungkin terjadi.
- siapkan baju menyusui (baju yang memiliki kancing atau resleting di depan), bra menyusui plus breast padnya, pompa asi (alat perah asi, jaga jaga bila asi sudah keluar namun bayi belum bisa menyusui, untuk menghindari bengkak dan mastitis pada PD)
Biasanya pompa disediakan oleh rumah sakit. Tapi saran saya,lebih baik mempelajari cara perah asi dengan tangan sebelum membeli pompa asi. Perah dengan tangan lebih simpel, tidak perlu sterilisasi alat, murah dan tidak sakit. Caranya bisa dicari di google atau youtube dengan kata kunci teknik marmet.
- Manfaatkan secara maksimal jasa suster untuk memperlancar proses menyusui.
Jangan sungkan sungkan ya, kalau perlu datangi konsultan laktasi di kota anda.
- Tahan godaan memberikan susu formula kepada bayi, karena bayi mampu "puasa" selama tiga hari. Terus lakukan usaha pemberian asi secara langsung atau asi perahan. Jika asi belum keluar,terus susui bayi anda karena akan merangsang keluarnya asi.
Jangan lupa dorongan dari keluarga agar sang ibu tidak mudah menyerah,mengingat kondisinya yang masih lemah.
- Siapkan donor asi, bila perlu. Mengenai donor asi, bisa didiskusikan dengan suami terlebih dahulu. Pada beberapa orang tidak prefer menggunakan jasa ini mengingat efeknya di masa depan.
- Lakukan pijat PD dan kompres air hangat air dingin secara bergantian untuk memperlancar asi. Cara pijat disearch di youtube aja ya, agak sulit menjelaskannya disini.
- Untuk menghindari kasus flat nipple, lakukan perawatan nipple sejak hamil 7 bulan keatas. Caranya, bersihkan nipple dan tarik-tarik perlahan menggunakan baby oil.
- Lecet pada nipple wajar terjadi pada minggu minggu awal menyusui,karena lidah bayi masih kasar. Solusinya, selalu oleskan asi sebelum dan sesudah menyusui serta angin anginkan sebentar setelah menyusui,cara ini yang paling efektif untuk saya. Ada beberapa cream yang mungkin membantu, semisal momilen, kamilosan dan medela purelan. Silahkan pilih cara yang paling disukai. Selebihnya, memang harus ditahan walau menyusui sambil nangis menahan sakit :-D,demi manfaat yang abadi. Untuk bayi laki laki kabarnya lebih kuat nyusunya, sehingga lebih berpeluang lecet, setidaknya itu hasil survey saya sendiri terhadap teman-teman. Siapkan mental saja ya Bu.
- Lakukan perlekatan (latch on) yang tepat, yaitu mulut bayi terbuka maksimal sehingga bayi menyusu pada bagian aerola bukan pada nipple saja, perut bayi head to head dengan perut ibu.
- Jika terjadi bengkak atau bahkan mastitis pada PD anda, lakukan pijat dan kompres lalu perah. PD yang bengkak harus diperah atau disusui,jika tidak,bisa menjadi mastitis yaitu bengkak,sakit jika disentuh disertai demam, sangat tidak nyaman tentunya.
- Selain tekad dan niat yang kuat, dukungan keluarga terutama suami sangat penting dalam proses pemberian asi. Jika tidak, jangan heran kalau bayi anda tidak pernah merasakan ASI yang merupakan hak bayi tentunya.
- Terakhir, ikuti milis yang dapat membantu anda menemukan jawaban detail atau sekedar curhat seputar masalah penyusuan. Fyi, milis yang saya ikuti adalah asiforbaby, monggo disubscribe :-).

Sekian dulu sharingnya, baru bisa berbagi tentang menyusui. Agak susah cari waktu khusus, akhirnya ngeblog di hape, seru juga ternyata.
Alhamdulillah masih bisa berbagi walau sambil menyusui :-D
Tetep semangat untuk para new mom!

Monday, July 5, 2010

Proses Menjadi Seorang Ibu

Kehamilan Yang Dinanti

Menikah pada saat seminggu sebelum Ramadhan menurut beberapa orang mungkin bukan waktu yang tepat untuk menyegerakan memiliki momongan. Setidaknya itu komentar dari beberapa orang relative kami. Kami memang tidak pernah ingin terburu-buru dalam memiliki anak, namun tidak bisa disangkal bahwa kata kehamilan adalah yang dinanti bagi pasangan baru yang tidak ada alasan kuat untuk menunda, karena salah satu tujuan menikah adalah untuk meneruskan keturunan. Pada kebanyakan keluarga besar, anak bahkan menjadi penentu keharmonisan dalam suatu rumah tangga. Jika sang istri belum hamil dalam jangka waktu yang lama bisa jadi masalah yang rumit dalam keluarga besar. Hal inilah, sadar atau tidak sadar, yang membuat saya dan suami ingin sekali segera hamil pada waktu itu.
Sebulan tampaknya waktu yang diperlukan untuk kami siap menerima kehadiran sang janin bayi. Masih teringat ketika bulan oktober harap harap cemas dikarenakan jadwal menstruasi yang telat. Saking dinantinya, telat dua hari saya sudah melakukan cek menggunakan testpack. Testpack pertama kalau tidak salah menggunakan testpack sensitif yang merupakan salah satu bonus hadiah dari seorang kerabat yang diselipkan di buku hadiah pernikahan kami. Dua garis! tapi masih belum percaya, karena masih muda sekali warnanya. Minggu itu merupakan minggu harap harap cemas bagi kami, sudah banyak testpack yang dibeli, dicoba pagi, siang dan malam. Sempat diliputi rasa kecewa ketika kami bersepeda pagi hari di ragunan (hiburan praktis dekat kontrakan rumah :) ), karena aku merasa sedang datang bulan yang ternyata hanya perasaan saja. Setelah garis semakin menebal, kami putuskan untuk cek ke dokter kandungan, kecewa sekali ketika ternyata belum ada kantung kehamilan dan kami diminta dua minggu lagi datang untuk memastikan sekali lagi. Tidak puas dengan first opinion, kamipun mengambil second opinion ke R.S di daerah Wijaya atas saran seorang teman. Di rumah sakit itulah kami mendapatkan ucapan selamat karena kantung kehamilan ternyata sudah terlihat. Bahagia rasanya, bahkan ketika di taksi kulihat mata suamiku berkaca-kaca, terharu katanya. Senang rasanya kalau melihat dia sedang seperti itu.
Hmm, tapi kekhawatiranku tidak berhenti sampai disana, pernah mendengar istilah kehamilan semu? hamil anggur dan sebagainya? Ya, hal itulah yang masih menggangguku. Masih selalu berfikir worst things that could happen, khawatir ketika dalam kantung itu tiada janin yang berkembang. Jadi, aku terus berkonsultasi dan berdoa tentunya. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Hari demi hari kehamilan dijalani, termasuk mual muntah yang tak terprediksi datangnya. Ketika habis tertawa bareng suami, ketika habis minum obat, ketika habis minum cendol, ketika di taksi, ataupun ketika asik bekerja. Semua kelelahan itu sudah saya lupakan. Teringat kata seorang senior di kantor yang harus menunggu lima tahun dan melakukan berbagai program kehamilan untuk mendapatkan seorang putri kecil yang cantik, beliau menasihati kami (aku dan Tina) untuk selalu bersyukur dan tidak mengeluh karena tidak semua orang dapat dengan mudah diberikan anugrah seperti yang telah diberikan kepada kami. InsyaAllah kami akan selalu bersyukur Mba :)
Di kantor, kehamilanku meneruskan estafet dari beberapa kehamilan yang sedang merebak di kantor pada waktu itu. Hal itu membuat kehamilan terasa lebih berarti, sharing sering kami lakukan sebagai sesama BuMil. Bukan itu saja, masukan pun banyak kami terima dari para 'senior' yang sudah terlebih dahulu memiliki anak. Ditambah lagi kehamilan seorang teman dekat di kantor yang menyusul empat bulan kemudian, Alhamdulillah, semuanya jadi terasa lebih excited. Buswaypun serasa mendukung kehamilanku, karena terdapat jalur khusus untuk ibu hamil dari terminal ragunan. Kehamilan tidak menjadi hambatan untuk terus bekerja.

Menjelang Hari Perkiraan Lahir

Perkiraan lahir jatuh pada tanggal 18 Juni 2010, bisa maju atau mundur seminggu. Hasil USG menunjukkan bayi kami adalah bayi lelaki. Kabarnya, untuk kehamilan bayi lelaki, persalinan bisa maju seminggu atau lebih. Akhirnya, aku mengambil cuti pada tanggal 10 Juni 2010 hingga tiga bulan kedepan. Kenyataan yang terjadi adalah rasa mulas itu belum juga menyapa. Semua orang menyarankan memperbanyak jalan kaki. Rasanya saya sudah melakukan "thawaf" alias berputar-putar di berbagai tempat hingga lelah, namun mulas itu belum juga menyapa. Hampir setiap hari selama aku cuti, teman teman, kerabat, saudara menanyakan kabar apakah sudah ada tanda tanda melahirkan atau belum. Dukungan dan saran dari mereka inilah yang sangat berarti selama masa penantian ini. Rasanya semua saran sudah dilakukan, namun dede bayi tampaknya masih betah didalam. Kontrol ke dokter semakin sering, hasil konsultasinya pun beragam dari mulai terasa santai dan menenangkan hingga ada "ancaman" induksi dan bahkan operasi. Namun dokter kandungan kami sangat menghindari menyebut kata-kata operasi, walaupun diwajahnya menampakkan ada kemungkinan itu. Sempat satu kali merasa ingin menangis jika mendengar kemungkinan operasi. Satu kata yang tidak pernah terfikir di otak saya dalam melahirkan seorang anak. Delapan hari berlalu dari masa cuti, hingga akhirnya tiba di hari perkiraan lahir bayi kami. Sebuah saran dari seorang dokter UGD yang menjadi awalan detik detik melahirkan itu tiba.

Detik detik Kelahiran

Sebuah saran yang awalnya tidak terlalu diambil fikir oleh saya dan suami. Walaupun saran tersebut bukan saran yang baru saya dengar, tapi entah kenapa jadi terasa penting karena hari H itu belum juga tiba.
Sabtu, 19 Juni 2010, waktunya untuk kontrol ke dokter kandungan. Ketika bersiap menuju rumah sakit, entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang merembes keluar, curiga air ketuban, tapi sedikit sekali. Selama perjalanan, saya merasakan mulas setiap lima menit sekali yang semakin menambah kecurigaan bahwa proses melahirkan akan segera tiba. Tepat ketika sampai di pintu rumah sakit, air ketuban mengucur deras, saya pun segera masuk ke ruang UGD untuk segera dilakukan penanganan khusus. Sejak siang itu saya hanya diperbolehkan berbaring untuk menghindari kehilangan air ketuban yang lebih banyak lagi, karena berbahaya bagi janin di dalam kandungan. Dokter menyatakan akan melakukan operasi jika dalam waktu enam jam tidak ada penambahan bukaan yang sejak siang masih bukaan 1 longgar. Enam jam kemudian, bukaan ternyata masih sama ketika siang tadi. Namun Alhamdulillah, dokter masih mau bersabar menunggu hingga jam sembilan malam. Pemeriksaan lanjutan pun dilakukan, ternyata bukaan bertambah menjadi bukaan dua. Dokter memutuskan untuk menunggu hingga pukul empat pagi, jika bukaan belum bertambah juga, operasi terpaksa dilakukan jam enam pagi karena dikhawatirkan bayi di dalam kandungan mengalami komplikasi akibat pecah ketuban. Menahan mulas selama tujuh belas jam ternyata sangat melelahkan, terlebih karena saya hanya diperbolehkan berbaring. Malam yang terasa panjang, untungnya ada suami dan ibu yang menemani. Pukul lima pagi, ternyata bukaan masih dua. Mungkin sudah ditakdirkan bayi pertama kami dilahirkan melalui proses SC. Sempat menangis ketika akhirnya dengan berat hati, demi keselamatan ibu dan anak, operasi pun disetujui. Proses operasi berjalan lancar hingga akhirnya tangisan bayi itupun terdengar, IMD (Inisiasi Menyusui Dini) tetap dilakukan walau terkesan IMD-IMD an (hanya berlangsung sebentar saja, dan langsung diletakkan di dada oleh suster). Alhamdulillah bayi dan ibu selamat dan sehat, itu yang terpenting bagi kami.

Please welcome, our Athar

Sekarang, melewati hari demi hari dengan kehadiran seorang anggota keluarga baru. Sekarang, bertiga kami melewati siang dan malam yang panjang (akibat begadang). Alhamdulillah, semoga sehat selalu. Mohon doanya.

Wednesday, June 30, 2010

Perkenalkan, Sang Buah Hati

Tepat pada tanggal 20 Juni 2010 pukul 06.29 WIB
Telah lahir putra pertama kami dengan berat 2.85 kg dan panjang 50 cm
Lahir di R.S Bersalin Duren Tiga Jakarta Selatan kamar Anggrek 3 (yang tentunya kami sudah tidak disana saat ini :) ) dengan dibantu dr.Junita Indarwati,Spog.

Dia yang kami nanti kami beri nama "Athar Ibrahim Amir"



Athar berarti suci
Ibrahim dengan harapan menjadi pemuda seperti Nabi Ibrahim
dan Amir sebagai penanda penerus keturunan Ayahnya.
_____________________________________________________________________

*ini kado buat baby athar selama di r.s
makasih ya om dan tante buat kunjungan dan hadiahnya :)

Wednesday, December 23, 2009

Kantor Baruku, -- for only three weeks ;) --


Kata orang, manusia itu dinamis, butuh perubahan.
I kind a like my new office, wider, more colourful dan mungkin karena hawa hawa long weekend juga kali ya. Waktu pun tak terasa berjalan begitu cepat ketika berada disini.
Beberapa teman dari vendor juga mengatakan tempat yang sekarang lebih baik. Sayangnya, hanya bertahan untuk tiga minggu kedepan. Mahal sih :)
Kembali ke kantor lama di tahun 2010 dengan layout yang baru, semoga semenarik interior disini.
Tak terasa, hampir tiga tahun menjalani tanggung jawab sebagai pekerja di perusahaan ini. Banyak yang sudah diberikan, materiil maupun non materiil. Beberapa kekecewaan mungkin sempat terlintas di pikiran saya dan teman-teman. Namun, rasa syukur harus selalu ditingkatkan. Tidak ada yang sempurna kok di dunia ini. Bukankah kita hanya terus berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu? it's hard, tapi harus selalu menjadi penyemangat :)
Masih ada satu keinginan untuk jangka pendek, nonton orkestra. Berharap di milad perusahaanku tahun depan, bisa mengundang twilight orchestra. Atau vienna kembali menggelar pertunjukkannya di Jakarta, murah sih :)
*Hehe, hanya berharap :)

*properti gambar dari hape tina dengan modal ilmu fotografi seadanya ;)

Thursday, October 8, 2009

a Rest Room



A nice picture above...
Well, i don't have one like that in my home :)

A lot of story happen there, especially in each cubicles...
Me, myself do crying (alone), laughing out (together) --please don't exchange the acivity become crying (together), laughing (alone) ... it will be SCARY-- , tell stories, having secret phone, even do exchange clothes in a restroom after doing some sport. Every activity that u can not do or you dont want to do in your desk.
You would do anything in the restroom, even only to take a little refreshing outside your work area.

I found two of my friends cried in the restroom (and of course they are woman). The theme is not far from job. It inspired me to write about restroom. I think every woman in my floor cried at least once in our lovely restroom. It is a place to ignore, but very important, because so many things smell humanity happen there.
I wish i could see and analyze the CCTV in a restroom, knowing what career woman do in a restroom, maybe i can found something interesting in human life :)
A documentary movie maybe? is there any? about restroom...

Well, i love my restroom, i make history with my restroom that i won't forget. Restroom accompany me to be strong in my daily job. Now i think my restroom is alive :) and she knows few tough part of my life.

--Ulya, a career woman, reporting from 11th floor Wisma Mulia, --

*husband, sorry if my english is so bad :)

Saturday, August 1, 2009

A fragment of life, The Heavenly Couple

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi


Salah satu cara untuk mencari rasa syukur adalah dengan membaca, oleh karena itu saya ingin meresumekan sebuah buku yang bisa menjadi inspirasi bersama, karena based on real story.

Here it is,
The Heavenly Couple
Air mata berburu bahagia

Sebuah kisah tentang Malihe, Majid, Mahdi dan Shaba. Malihe adalah seorang wanita Iran yang telah dinikahi oleh Majid dan memperoleh dua buah hati, Mahdi (a boy) dan Shaba (a girl). Majid adalah seorang lelaki yang kebetulan memiliki keluarga yang bermasalah terkait revolusi yang sedang terjadi di Iran. Setiap kali Majid mencari pekerjaan, dia selalu dikatakan bermasalah akibat perbuatan yang dilakukan saudara-saudaranya dalam pergerakan revolusi di Iran. Pekerjaan apapun akan dilakukannya walau berakhir sama, pemecatan. Malihe berani menerima resiko itu karena dukungan dari ibunya dan janji Majid kepada ayah Malihe untuk mengiyakan syarat apapun, termasuk untuk tidak terlibat dalam revolusi yang sedang terjadi.

Beberapa saudara Malihe mengajaknya tinggal bersama mereka dan meninggalkan Majid yang berada dalam kondisi tidak jelas sama sekali. Malihe tidak tega meninggalkan Majid yang rela meninggalkan profesi sekaligus hobinya, yaitu melukis, untuk menafkahi Malihe dan kedua anaknya. Terlebih lagi ucapan ibunya yang selalu ia ingat "Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan".Dia tidak ingin melanggar janji setianya.

Kali ini ia harus berjuang bersama keluarganya untuk menyelundupkan diri keluar dari Iran, agar Majid bisa memperoleh lingkungan yang kondusif untuk mencari nafkah. Sampailah mereka ke sebuah kota asing. Masalah yang dibawa keluarga Majid tidak berhenti sampai di tempat mereka tinggal sebelumnya, ternyata di tempat baru itupun, Majid masih dikejar kejar untuk ikut bergabung dalam kelompok revolusi, yang ternyata di tempat baru tersebut, kakaknya yang pernah terlibat revolusi dan dikabarkan meninggal, masih hidup dan dijadikan salah seorang pemimpin dalam revolusi itu. Majid pun diajak untuk bergabung. Malihe tidak suka akan hal itu, karena tujuan mereka bersusah payah meninggalkan keluarga dan negeri tempat mereka tumbuh adalah untuk menghindari kata kata revolusi yang senantiasa membuat Majid tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Walaupun tawaran yang diberikan sangat menggiurkan, namun Majid tetap menjaga niat awalnya untuk pergi ke tempat yang jauh sekali agar tidak dikait kaitkan dengan masalah revolusi dan bisa hidup bersama keluarganya dengan tenang.

Perjuangan demi perjuangan pun terlalui, untuk menyambung hidup mereka sehari hari, Majid melakukan pekerjaan melukis di tempat mereka menginap, tapi tetap saja tidak bisa memberikan masa depan yang jelas karena polisi bisa saja datang dan menangkap mereka karena melakukan aktifitas yang tidak legal, yaitu bekerja tanpa izin bekerja. Sementara itu Malihe dan anak anak berusaha mendapatkan izin dari PBB, turut dalam antrian panjang para imigran yang berniat untuk berimigrasi ke negeri lain, meninggalkan negeri yang sedang kacau balau tersebut.

Ujian terberat yang harus dialami Malihe dan Majid adalah ketika Majid terjebak harus ikut dalam sebuah pergerakan sesat yang memisahkan mereka dan hampir membuat Majid menjadi gila. Akan tetapi semuanya teratasi berkat kepercayaan dan ikatan yang kuat antara mereka. Malihe dan anak anak terpaksa harus kembali ke tempat ia tinggal bersama keluarga besarnya tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Majid. Sementara Majid harus menyelesaikan misinya pada pergerakan sesat tersebut dan berusaha untuk kabur.

Happy Ending, walaupun meninggalkan trauma besar dalam diri Majid, tapi mereka berjanji untuk memulai kembali. Sesuai TagLine buku tersebut, air mata berburu bahagia.
Selamat menikmati buku ini, sebagai khasanah bahwa life is never flat :)